Sanksi Denda 750 Ribu untuk Pengendara Motor yang Merokok sambil Berkendara. Efektif?

Sejak Maret 2019 lalu, telah disahkan peraturan yang melarang pengendara motor untuk melakukan aktivitas mengganggu di jalan. Peraturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019.

Peraturan ini berbunyi seperti berikut:

“Pengemudi dilarang merokok dan melakukan aktifitas lain yang mengganggu konsentrasi ketika sedang mengendarai sepeda motor,” 

“Sanksi jika melanggar akan dikenakan pasal 106 Undang-Undang No 22 th 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan, atau denda paling banyak Rp 750.000,” tulis akun instagram @dishubdiy, Jumat (29/3/2019)

Hal ini tentu saja membawa angin segar bagi mereka yang tidak merokok. Karena penderita perokok pasif akan sangat terbantu dengan adanya peraturan ini. Namun bagi mereka yang perokok, peraturan ini tentu mengundang reaksi yang beragam. Sebab bagi mereka merokok bukanlah semata-mata untuk lifestyle, melainkan cara untuk menghilangkan stres dan penat ketika jalanan sedang macet. 

Melihat kembali pada peraturan tersebut, sebenarnya tidak ada penyebutan secara spesifiik soal besaran denda. Hal ini dikonfirmasi oleh Direktur Antarmode Kementrian Perhubungan, Ahmad Yani yang kami kutib dari tirto.id.

READ ALSO  Ban Anti-Licin Saat Hujan, 3 Hal Ini Harus Kamu Lakukan Agar Berkendara Aman Saat Hujan

Menurut Yani, Permenhub 12/2019 yang baru disahkan lembaganya itu memang tidak menyebut secara spesifik nominal tertentu terkait denda bagi pengendara motor yang sambil merokok. Aturan baru itu, kata dia, hanya berisi larangan. “Enggak ada [sanksi tertulis]. Kami itu cuma melarang pengemudi merokok, tapi enggak ada denda. Itu diserahkan [kepada] yang menilang. Kan itu bisa ditangkap polisi di jalan. Kalau dia tidak konsentrasi, kan, ada aturannya,” kata Yani pada Jumat, 29 Maret 2019. 

Lalu, apakah kemudian peraturan ini akan menjadi efektif? Sebab pada kenyataannya peraturan masih saja dilanggar dan diabaikan. 

Denda merokok saat berkendara - speedpartsrus.com

Beberapa faktor ini mungkin juga menjadi penyebab mengapa banyak pengendara motor yang tidak menghiraukan peraturan denda motor ini.

Sanksi masih tidak dapat membuat efek jera. Tentu saja, berat ringannya sanksi atau konsekuensi yang diberlakukan dapat mempengaruhi apakah peraturan tersebut bisa diterima atau tidak. Jika sanksi yang diterima dirasa tidak berat, manusia cenderung akan melanggar. Meski pola pikir ini sangat buruk, nyatanya bangsa kita cenderung berpikir melanggar saja jika dirasa sanksinya tidak berat.

READ ALSO  Cara Merawat Ban Motor Matic Lebih Awet

Jarang diawasi, matikan rokok saat ada polisi saja. Pada prakteknya, selalu ada kemungkinan orang untuk menyiasati peraturan yang berlaku. Kalau tidak ada petugas patroli atau berjaga, ya lakukan saja! 

Oknum aparat yang bisa diajak “damai”. Jangan terkejut bila nanti ada cerita denda 750.000 turun harga jadi 100.000, sebab bukan rahasia kan ada oknum yang bisa diajak untuk berdamai? Hal ini tentu saja menyebabkan masyarakat tidak menghargai peraturan yang diberlakukan. Jika ketiga faktor ini bisa diatasi dengan konsistensi yang tegas, bukan tidak mungkin bila bangsa kita menjadi bangsa yang bersih. 

Tentunya kita berharap ada sosialisasi dan kejelasan lebih lanjut mengenai peraturan ini.Bagaimana menurut kamu? Apakah masih ada kekurangan dalam peraturan yang diterbitkan atau malah tingkat kesadaran akan peraturan yang masih rendah?